Tampilkan postingan dengan label B. Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label B. Indonesia. Tampilkan semua postingan

Minggu, 01 April 2012

Pentingnya Peningkatan Peran Wanita untuk Mendukung Pengembangan SDM

Diposting oleh uL chupied di 05.31 0 komentar

Pentingnya Peningkatan Peran Wanita untuk Mendukung Pengembangan SDM
   Sejalan dengan pertumbuhan penduduk Indonesia yang semakin meningkat, maka jumlah tenaga kerja dan angkatan kerja meningkat juga. Upaya untuk melibatkan wanita dalam pengembangan mutlak di perlukan karena wanita merupakan sebagian besar sumber daya manusia yang tersedia sebagai modal dasar pembangunan. Partisipasinya sebagai angkatan kerja dalam mencurahkan waktunya untuk bekerja berkaitan dengan perannya dalam pembangunan ekonomi yang diyakini cukup bermanfaat.
   Di Indonesia jumlah angkatan kerja wanita menunjukkan kecenderungan meningkat, dengan pertambahan yang lebih cepat daripada angkatan kerja laki-laki. Hal ini selain disebabkan untuk peningkatan yang cukup tinggi dari jumlah penduduk wanita juga semakin luasnya lapangan pekerjaan dan semakin tinggi tingkat pendidikan mereka sehingga saat ini wanita lebih banyak mempunyai pilihan dalam aktivitas kehidupan ekonominya di bandingkan dengan masa lalu.
   Masalah kependudukan erat kaitannya dengan masalah ketenagakerjaan , sebab jumlah komposisi, distribusi dan kualitas penduduk menentukan jumlah tenaga kerja dan angkatan kerja. Data sensus penduduk tahun 2004 menunjukkan korelasi positif antara laju pertumbuhan penduduk dengan laju pertambahan angkatan kerja, yaitu laju penduduk pada dekade 1990-2000 sebesar 1,49% per tahun dan laju pertumbuhan angkatan kerja sebesar  1,03% per tahun.
   Berdasarkan sensus penduduk tahun 2004, jumlah angkatan kerja pria sebesar 58.779.772 jiwa dan angkatan kerja wanita sebanyak  36.871.239 jiwa. Jika melihat fakta yang ada, tingkat partisipasi kerja wanita dalam mencurahkan waktunya untuk bekerja lebih kecil yaitu sebesar 51,69% sedangakan pria 84, 17%. Hal ini dikarenakan pekerjaan rumah tangga yang di lakukan wanita tidak dihitung sebagai kerja sebab tidak menghasilkan uang. Dalam pembangunan, wanita punya tanggung jawab yang sama denga pria terutama perananya dalam pembangunan.
   Bahwa khusus propinsi Jawa Timur terdapat sekitar 12.945 jumlah penduduk wanita. Hal ini berarti peran serta wanita di jawa Timur khususnya disamping sebagai ibu rumah tangga juga sebagai pencari sebagai pencari nafkah sebesar 18,4% dari jumlah penduduk Indonesia. Dari data di atas terlihat bahwa jumlah wanita dan kuantitasnya merupakan potensi yang wajib di perhitungkan karena melibatkan wanita, dapat mempercepat proses pembangunan bangsa (Nirwana permatasari). Pendapat hampir sama juga di ucapkan oleh Sajogya (1993), bahwa mengikutsertakan wanita dalam proses pembanguna bangsa merupakan tindakan peri kemanusiaan, tetapi juga merupakan tindakan efisiensi , karena tanpa mengikutsertakan wanita dalam pembangunan berarti pemborosan dan memberi pengaruh negatif terhadap laju pertumbuhan ekonomi. Maka dari itulah peran wanita sangat penting untuk mendukung pengembangan SDM.


Topik : Peningkatan Peran Wanita
Tema : Pentingnya Peningkatan Peran Wanita untuk Mendukung Pengembangan SDM

·         Kerangka Paragraf
-          Pernyataan Masalah :
Sejalan dengan pertumbuhan penduduk Indonesia yang semakin meningkat, maka jumlah angkatan kerja dan tenaga kerja meningkat juga . upaya untuk melibatkan wanita dalam pembangunan mutlak diperlukan karena wanita merupakan sebagian besar sumber daya manusia yang tersedia sebagai modal dasar pembangunan. Pertisipasinya sebagai angkatan kerja dalam mencurahkan waktunya untuk bekerja berkaitan denagn perannya dalam pembangunan ekonomi yang diyakini cukup bermanfaat.

-          Fakta / Data :
Berdasarkan sensus penduduk tahun 2004 , jumlah angkatan kerja pria sebesar 58.779.772 jiwa dan angkatan kerja wanita sebanyak 36.871.239 jiwa. Jika melihat fakta yang ada tingkat partisipasi kerja wanita dalam mencurahkan waktunya untuk bekerja lebih kecil yaitu sebesar 51,69% sedangakan pria 81,17%. Hal ini dikarenakan pekerjaan rumah tangga yang dilakukan wanita tidak dihitung sebagai kerja sebab tidak menghasilkan uang. Dalam pembangunan, wanita punya tanggung jawab yang sama dengan pria terutama perannya dalam pembangunan.

-          Kesimpulan :
Jumlah wanita dari kuantitasnya merupakan potensi yang wajib di perhitungkan karena melibatkan wanita dapat mempercepat proses pembangunan bangsa (Nirwana Permatasari). Pendapat hampir sama juga di ungkapkan Sajogya (1933), bahwa mengikutsertakan wanita dalam proses pembangunan merupakan tindakan peri kemanusiaan, tetapi juga merupakan tindakan efisiensi, karena tanpa mengikutsertakan wanita dalam pembangunan berarti pemborosan dan memberi pengaruh negatif terhadap laju pertumbuhan ekonomi. Maka dari itulah peran wanita sangat penting untuk mendukung pengembangan SDM.

PUISI LAMA

Diposting oleh uL chupied di 05.30 0 komentar

PUISI LAMA
  Puisi adalah bentuk karangan yang terkikat oleh rima, ritma, ataupun jumlah baris serta ditandai oleh bahasa yang padat. Menurut zamannya, puisi dibedakan atas puisi lama dan puisi baru.
A. PUISI LAMA
  Puisi lama adalah puisi yang terikat oleh aturan-aturan. Aturan- aturan itu antara lain :
  - Jumlah kata dalam 1 baris
  - Jumlah baris dalam 1 bait
  - Persajakan (rima)
  - Banyak suku kata tiap baris
  - Irama
1. Ciri-ciri Puisi Lama  
  Ciri puisi lama:
a) Merupakan puisi rakyat yang tak dikenal nama pengarangnya
b) Disampaikan lewat mulut ke mulut, jadi merupakan sastra lisan
c) Sangat terikat oleh aturan-aturan seperti jumlah baris tiap bait, jumlah suku  kata maupun rima
2. Jenis Puisi Lama
Yang termasuk puisi lama adalah
a)    Mantra adalah merupakan puisi tua, keberadaanya dalam masyarakat Melayu pada  mulanya bukan sebagai karya sastra, melainkan lebih banyak berkaitan dengan adat dan kepercayaan.
b)   Pantun berasal dari melayu. Pantun merupakan sejenis puisi yang terdiri atas 4 baris bersajak a-b-a-b, a-b-b-a, a-a-b-b. Dua baris pertama merupakan sampiran, yang umumnya tentang alam (flora dan fauna), dua baris terakhir merupakan isi, yang merupakan tujuan dari pantun tersebut. 1 baris terdiri dari 4-5 kata, 8-12 suku kata. Pembagian pantun menurut isinya terdiri dari pantun anak, muda-
mudi, agama/nasihat, teka-teki, jenaka
c) Karmina adalah pantun tetapi pendek atau dikenal dengan nama   
    pantun kilat adalah pantun yang terdiri dari dua baris. Baris pertama merupakan  
    sampiran dan baris, kedua adalah isi. Memiliki pola sajak lurus (a-a). Biasanya
    digunakan untuk menyampaikan sindiran
    ataupun ungkapan secara langsung.
d) Seloka adalah pantun berkait
merupakan bentuk puisi Melayu Klasik, berisikan  
     pepatah,maupun perumpamaan yang mengandung senda gurau, sindiran bahkan  
     ejekan. Biasanya ditulis empat baris memakai bentuk pantun atau syair,  
     terkadang dapat juga ditemui seloka yang ditulis  
     lebih dari empat baris.
e) Gurindam adalah,
satu bentuk puisi Melayu lama yang terdiri dari dua baris
    kalimat dengan irama akhir yang sama, yang merupakan satu kesatuan yang utuh,
    bersajak a-a-a-a. Baris pertama berisikan semacam soal, nasihat,masalah atau
    perjanjian dan baris kedua berisikan jawabannya atau akibat dari masalah atau
    perjanjian pada baris pertama tadi.Gurindam Dua Belas adalah Kumpulan
    gurindam yang dikarang oleh Raja Ali Haji dari Kepulauan Riau. Dinamakan
    Gurindam Dua Belas oleh karena berisi 12 pasal, antara lain tentang ibadah,
    kewajiban raja, kewajiban anak terhadap orang tua, tugas orang tua kepada anak,
    budi pekerti dan hidup bermasyarakat.


f) Syair adalah karangan dalam bentuk terikat yang mementingkan irama sajak.    
    Biasanya terdiri dari 4 baris, berirama a-a-a-a, keempat baris tersebut
    mengandung arti atau maksud penyair (pada pantun, 2 baris terakhir yang
    mengandung maksud). Syair berasal dari Arab.
g) Talibun adalah sejenis puisi lama seperti pantun karena mempunyai sampiran dan
    isi, tetapi lebih dari 4 baris ( mulai dari 6 baris hingga 20 baris). Berirama abc-
    abc, abcd-abcd, abcde-abcde, dan seterusnya.
3. Contoh dari Jenis-jenis Puisi
a) Mantra
  Assalammualaikum putri satulung besar
  Yang beralun berilir simayang
  Mari kecil, kemari
  Aku menyanggul rambutmu
  Aku membawa sadap gading
  Akan membasuh mukamu
         b) Pantun
           Kalau ada jarum patah
           Jangan dimasukkan ke dalam peti
           Kalau ada kata ku yang salah
           Jangan dimasukan ke dalam hati
         c) Karmina
           Dahulu parang, sekarang besi (a)
           Dahulu sayang sekarang benci (a)
         d) Seloka
 -  Lurus jalan ke Payakumbuh,
    Kayu jati bertimbal jalan
    Di mana hati tak kan rusuh,
    Ibu mati bapak berjalan
 - anak pak dolah makan lepat,
   makan lepat sambil melompat,
   nak hantar kad raya dah tak sempat,
   pakai sms pun ok wat ?
          e) Gurindam
 - Kurang pikir kurang siasat (a)
  Tentu dirimu akan tersesat (a)
           - Barang siapa tinggalkan sembahyang ( b )
  Bagai rumah tiada bertiang ( b )
           - Jika suami tiada berhati lurus ( c )
  Istri pun kelak menjadi kurus ( c )
 - Pabila banyak mencela orang
   Itulah tanda dirinya kurang                                                                                         
  
 - Dengan ibu hendaknya hormat                                                                                                   
   Supaya badan dapat selamat
         f) Syair
  Pada zaman dahulu kala (a)
  Tersebutlah sebuah cerita (a)
  Sebuah negeri yang aman sentosa (a)
  Dipimpin sang raja nan bijaksana (a)
       g)Talibun
  Kalau anak pergi ke pekan
            Yu beli belanak pun beli sampiran
            Ikan panjang beli dahulu
            Kalau anak pergi berjalan Ibu cari sanak pun cari isi Induk semang cari dahulu
4. Ciri-ciri dari jenis puisi lama
a) Mantra
Ciri-ciri:
-      Berirama akhir abc-abc, abcd-abcd, abcde-abcde
-      Bersifat lisan, sakti atau magis
-      Adanya perulangan
-      Metafora merupakan unsur penting
-      Bersifat esoferik (bahasa khusus antara pembicara dan lawan bicara) dan misterius
-      Lebih bebas dibanding puisi rakyat lainnya dalam hal suku kata, baris dan
      persajakan.

b) Pantun
  Ciri ciri pantun :
-      Setiap bait terdiri 4 baris
-      Baris 1 dan 2 sebagai sampiran
-      Baris 3 dan 4 merupakan isi
-      Bersajak  a-b a-b                                                                                                          
-      Setiap baris terdiri dari 8-12 suku kata
-      Berasal dari Melayu (Indonesia)
c) Karmina
Ciri-ciri karmina :
 - Setiap bait merupakan bagian dari keseluruhan.
 - Bersajak aa-aa, aa-bb
 - Bersifat epik: mengisahkan seorang pahlawan.
 - Tidak memiliki sampiran, hanya memiliki isi.
 - Semua baris diawali huruf capital.
 - Semua baris diakhiri koma, kecuali baris ke-4 diakhiri tanda titik.
 - Mengandung dua hal yang bertentangan yaitu rayuan dan perintah.
d) Seloka
Ciri-ciri seloka :
 - Ditulis empat baris memakai bentuk pantun atau syair,
 - Namun ada seloka yang ditulis lebih dari empat baris.

e) Gurindam
Ciri-ciri gurindam :
-      Baris pertama berisikan semacam soal, masalah atau perjanjian
      baris kedua berisikan jawabannya atau akibat dari masalah atau perjanjian
      pada baris pertama tadi.

f) Syair
ciri-ciri syair :                                                                                                                                           
 - Terdiri dari 4 baris
 - Berirama a-a-a-a
 - Keempat baris tersebut mengandung arti atau maksud penyair

g) Talibun
Ciri-ciri talibun :
-      Jumlah barisnya lebih dari empat baris, tetapi harus genap misalnya 6, 8, 10
      dan seterusnya.
-      Jika satu bait berisi enam baris, susunannya tiga sampiran dan tiga isi.
-      Jika satu bait berisi delapan baris, susunannya empat sampiran dan empat
      isi.
-      Apabila enam baris sajaknya abc-abc
-      Bila terdiri dari delapan baris, sajaknya abcd-abcd

Cerpen Judul : Pengemis sebagai profesi

Diposting oleh uL chupied di 05.20 0 komentar
Topik : Mencermati perilaku pengemis  : benar-benar miskin atau profesi
Judul : Pengemis sebagai profesi
·         Pernyataan masalah :
sejumlah keluarga miskin (KK) lebih cenderung memilih dan menjadikan pengemis sebagai profesi baru guna memenuhi kebutuhan keluarganya banyak kepala keluarga yang terhimpit masalah ekonomi, mengakibatkan banyak dari mereka yang berusaha untuk mendapatkan uang dengan jalan pintas seperti mengemis itu.
·         Fakta/Data :
Sementara itu, berdasarkan sampel penelitian hampir 70 persen dari 100 sampel yang diambil, kehidupan para pengemis justru "sejahtera", bahkan memiliki rumah dengan segala isinya. Bahkan setelah dilakukan penelitian dan mencermati dengan baik sebagian kelompok menjadikan dirinya sebagai pengemis hanya sekedar sebagai profesi, namun beberapa kelompok sisanya menjadikan diri sebagai pengemis karena mereka memang tergolong sebagai orang yang benar-benar miskin. Penelitian tersebut di dukung pula oleh Bueke(teori Belanda), yang menyatakan bahwa profesi mengemis cenderung dilakukan orang lebih akibat sifat mereka yang pemalas.
·         Ide pendukung/penjelas :
-          banyak kepala keluarga yang terhimpit masalah ekonomi, mengakibatkan banyak dari mereka yang berusaha untuk mendapatkan uang dengan jalan pintas seperti mengemis
-          setelah dilakukan penelitian dan mencermati dengan baik sebagian kelompok menjadikan dirinya sebagai pengemis hanya sekedar sebagai profesi, namun beberapa kelompok sisanya menjadikan diri sebagai pengemis karena mereka memang tergolong sebagai orang yang benar-benar miskin.
-          profesi mengemis cenderung dilakukan orang lebih akibat sifat mereka yang pemalas.
-          jika lebih digali lagi, semua potensi yang ada dapat dimanfaatkan untuk kesejahteraan hidup mereka sendiri


Pengemis sebagai profesi

Sosiolog Universitas Andalas, Dra Mira Elfina, MSi, mengatakan, sejumlah keluarga miskin (KK) di Kota Padang, Sumatera Barat, lebih cenderung memilih dan menjadikan pengemis sebagai profesi baru guna memenuhi kebutuhan keluarganya.
"Dengan mengemis di perempatan lampu merah, setiap orang justru mampu meraup ’penghasilan’ Rp 30.000 hingga Rp 50.000 per hari. Usaha tersebut cukup mudah dan tidak perlu mengeluarkan banyak tenaga," kata Mira Elfina di Padang, Senin (4/10/2010).
Ia mengatakan itu berdasarkan pengamatannya terkait jumlah pengemis yang beroperasi di perempatan lampu lalu lintas Kota Padang, Sumbar, makin marak. Mereka tersebar mulai dari Jalan Bagindo Azischan, Jalan Damar, by pass, Sudirman, S Parman, Tabing, Koto Tangah, dan Jalan Thamrin.
Pengemis yang beroperasi tersebut laki-laki dan perempuan mulai dari usia balita hingga lansia. Bahkan setahun pascagempa Sumbar, jumlah mereka terus bertambah.
Menurut Mira, jumlah mereka makin bertambah—semenjak krisis moneter—apalagi pascagempa Sumbar yang mengakibatkan banyaknya usaha yang tutup akibat tempat usaha mereka hancur diguncang gempa.
"Dampak gempa tersebut, banyak kepala keluarga yang terhimpit masalah ekonomi, mengakibatkan banyak dari mereka yang berusaha untuk mendapatkan uang dengan jalan pintas seperti mengemis itu," katanya.
Menurut Mira, pascakrisis moneter seluruh sektor perekonomian mengalami keterpurukan dan hal ini sangat berpengaruh kepada golongan masyarakat yang berada pada strata masyarakat terbawah.
Masyarakat tersebut, katanya, terimbas dampak dua kali, selain masuk dalam kategori masyarakat golongan bawah dengan minim akses pendidikan hingga tingkat kualitas sumber daya manusianya juga minim.
"Parahnya, mereka juga terhambat dalam memenuhi kebutuhan hidup karena seluruh harga melonjak secara drastis," katanya, dampak demikian mengakibatkan meningkatnya jumlah pengemis di perempatan lampu lalu lintas itu.
Akan tetapi, ia juga meragukan pemerintah daerah belum berupaya maksimal untuk meminimalisasi keberadaan mereka.
Sementara itu, berdasarkan sampel penelitian hampir 70 persen dari 100 sampel yang diambil, kehidupan para pengemis justru "sejahtera", bahkan memiliki rumah dengan segala isinya. Bahkan setelah dilakukan penelitian dan mencermati dengan baik sebagian kelompok menjadikan dirinya sebagai pengemis hanya sekedar sebagai profesi, namun beberapa kelompok sisanya menjadikan diri sebagai pengemis karena mereka memang tergolong sebagai orang yang benar-benar miskin. Penelitian tersebut di dukung pula oleh Bueke(teori Belanda), yang menyatakan bahwa profesi mengemis cenderung dilakukan orang lebih akibat sifat mereka yang pemalas.

"Mereka tidak mau berusaha dan berpikir untuk memanfaatkan segala potensi yang ada di sekelilingnya. Padahal, jika lebih digali lagi, semua potensi yang ada dapat dimanfaatkan untuk kesejahteraan hidup mereka sendiri,".
Mencermati kasus demikian, pemerintah melalui dinas terkait perlu segera memprogramkan pendataan pengemis di jalanan agar mereka tidak lagi berperilaku malas serta dieksploitasi oleh pihak-pihak yang ingin menarik keuntungan.
Selain itu, pemberdayaan terhadap rumah singgah juga perlu lebih ditingkatkan guna menampung anak-anak yang sengaja ditelantarkan orangtua mereka untuk mencari nafkah ekonomi.

 

chupiedd pinkpurplee ^^__^^ Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea